Saturday, November 12, 2016

this is not a story when a girl meets a boy #1



Yogyakarta,

..... Sudah lebih dari enam ribu kata.
Oke, baiklah aku akan mengingat dari mana kita mulai berteman.


Sore itu aku terpaksa mem-betah-kan diri di dalam studio yang mulai sepi. Makhluk-makhluk berkantung mata itu akhirnya memilih pulang untuk tidur dikamar masing-masing. Tugas besar project studio kali ini merenggut tiga malam terakhirku, dan semua mahasiswa. Aku lelah. Tambah parahnya, hari ini ada deadline proyek renovasi rumahnya kenalan orang tuaku. So, aku harus menahan hasrat ingin melemparkan diri ke kasur. Bah! 

Aku memilih tinggal sebentar lagi di studio, menyelesaikan proyek semaksimal mungkin dan yah, sudah hampir selesai, tinggal dibuat format persentasi. Studio mulai sepi. Hanya terdengar suara burung diluar yang berseruan seakan berteriak sebentar lagi hujan turun. Akhir-akhir ini hampir setiap sore hujan. Ah Desember. 

Aku memang sengaja tidak menyetel musik klasik, hanya ingin menikmati suasana studio yang hening. Siapa tahu lebih fokus. Milo hangat yang ku beli di kantin tadi sudah mendingin. Dan aku masih enggan meminumnya. Memilih menyisakan nanti setelah semua selesai. 

Hampir dua jam berlalu, aku masih memainkan mouse dan shortcut pada keyboard. Terlalu banyak ide untuk menyusuin format persentasi malah bikin semangat menggelora. Tingkat fokusku sangat tinggi sampai tidak sadar ternyata bukan cuma aku yang duduk di ruang studio itu. Entah sejak kapan, kamu duduk disana. Sibuk menatap layar laptopmu. Jutek. Enggak. Diam. Serius. Fokus. Dan bingung. Dengan dahi berkerut-kerut dan mulut kadang menggumam pelan, di depanmu terdapat secangkir minuman berwarna cokelat yang sesekali kau sesap. Sesekali aku meliriknya. Lama-lama jadi sering. Tingkat kefokusanku menurun. Gara-gara mataku lebih sering melirik kearahmu daripada lurus menatap layar 14 inci ini. Mau menyapa tapi enggan. 

Tapi entah karena apa, tiba-tiba kau mengajakku bicara. Lupa darimana awalnya, tapi beberapa saat kemudian kita sudah berbicara banyak hal. Bercerita tentang tugas besar, organisasimu, proyekku, cita-cita setelah lulus, gosip di kampus, pameran arsitektur, hobi kita, zaha hadid, tadao ando, dan banyak lagi. Time flies. Nggak kerasa. Sore yang sempurna. Obrolan yang asik. Partner diskusi yang seru. Secangkir milo yang masih penuh. Dan, kamu. 

Hampir pukul delapan ketika aku melirik layar laptopku. Terdengar anaconda di perutku mengaum meminta makanan. Kamu mendengarnya lalu tertawa kecil. Aku malu, tapi tertawa. Kita tertawa. 

Setengah jam kemudian, situasi dan kondisi mengamini kebersamaan ini. Kita sudah berada di salah satu meja di warung makan dekat kampus. Proyekku sudah selesai. Begitupun dengan punyamu. Aku dan kamu menikmati makan malam berdua sederhana di warung pinggir sawah, dengan menu sepiring lumpia raksasa berisi telur, wortel dan seafood. Masih dengan banyak bahan bicara yang sepertinya tak akan pernah habis.


Entah apa bagaimana terjadi selanjutnya, aku dan kamu mulai berteman........




note: menantang diri sendiri kudu ngepos 1 post malam ini. Ceritanya kangen kampus dan sekitarnya. Coba tebak tempat makannya dimana? Yang bisa nebak dapet 3 buah kartu ucapan ala kikokiky hahaha!

2 comments:

  1. Lumpia Boom!

    Tapi itu berapa tahun lalu kak "warung pinggir sawah"?

    ReplyDelete