Monday, January 25, 2016

hello komodo part 2: Let's Go!

Note: Sepertinya akan lebih banyak gambar daripada tulisan.





Setelah sempat mampir ke kantor bupati dan Balai Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo untuk persentasi program, perjalanan yang sesungguhnya baru benar-benar dimulai. Boat menuju Komodo melaju, mata dimanjakan dengan pemandangan laut biru, langit biru, awan putih dan pulau-pulau gersang disepanjang perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih empat jam. Sembari menikmati angin sepoi dan suara mesin kapal, pikiran saya tak bisa lepas dari khayalan menuju Jurassic Park. Ya, suasananya purba banget, saya sempat mikir Jurrasic Park terinspirasi dari pulau ini. Wk~

Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo.
The design reminds me of Emad Zend on Youtube,
tutorial rendering sketsa yang konsepnya dari berbagai benda random disekitarnya  :|

sejauh mata memandang~


Kami tidak langsung menuju ke Desa Komodo, sempat singgah di Rinca sekitar jam tiga sore, melihat sekeliling desa, bercengkerama dengan tokoh adat, mengambil foto sebentar, istirahat, kemudian numpang solat di masjid (air wudunya asin!). Setelah kurang lebih satu jam, perjalanan dilanjutkan menuju matahari terbenam. Sudah ada sedikit bayangan seperti apa bentuk Desa Komodo dibenak saya. 



rumah-rumah berjarar di bibir pantai

lautnya super bening!

sore hari memang waktunya para bocah untuk 'mandi'

bye Rinca! if you see that kilauan matahari hampir tenggelam di laut, kayak kristal. blink-blink

Selanjutnya, boat mengantarkan kami menuju Pink Beach. What a day. Semua orang langsung terjun ke air tanpa babibu. Sore yang bahagia, badan, mata, kulit dan seluruh indera dimanjakan oleh pemandangan biota laut yang luar biasa beragam, ikan warna-warni, terumbu karang yang ginjuk-ginjuk kalo keinjek, ubur-ubur, air laut yang jernih, air laut yang asin, sunyi, gemersik air di bibir pantai, pasir pantai yang berwarna pink, dan peralihan warna langit dari biru ke hitam, matahari tenggelam, dan golden hour setelahnya. Semua terbayarkan setelah lelah yang menumpuk. Entah lelah karena apa, bisa jadi lelah karenan persiapan kami menuju kesini. Tapi yang pasti, pikiran saya akan sidang bulan lalu langsung teralihkan, total. God Bless Pink Beach!

~Ikan Fugu~

Gelap mulai turun, kami melanjutkan perjalanan menuju kehidupan asing yang akan kami masuki. Perahu kami berhenti pada dermaga panjang yang menghantarkan ke gerbang bertuliskan 'Selamat datang di Kampung Wisata Komodo". Itu kali pertama kami menginjakkan kaki di 'kehidupan baru' dengan puluhan koper, kerier (nulisnya gimana btw?), dan ransel. Baju basah serta badan lengket sehabis snorkling melengkapi kedatangan kami ke Desa Komodo. Waktu itu sudah sekitar tujuh malam, suara berisik lagu dangdut yang diputar superkencang oleh warga membuat kuping kami harus beradaptasi.

Dermaga Abdul Husein,tapi  kami menyebutnya dermaga satu,
Gapura sumbangan dari YKK (Yayasan Komodo Kita) dan BNI

Yang pertama melintas dipikiran setelah sampai adalah: Dem, di dermaga sudah banyak lampu bersolarcell! *berasa dipermainkan oleh DPL, yang katanya disana belom ada lampu di tempat umum.*
Ya baguslah, berarti sudah lumayan maju toh desa ini. Alhamdulillah :')

Ehh lanjutkan~
Kami dibagi menjadi dua rumah, masing-masing rumah sebelas orang. Setelah berkenalan dengan empunya rumah, sempat mandi, kami dijamu makan malam sederhana oleh keluarga mas Riza, di rumah Pak Sahe. Rumah panggung sederhana itu memuat kami semua lhooo~. Menu makan malam memang sederhana, tapi kelelahan dan kebersamaan membuat kami semua makan dengan lahap! Haphap!

Sejak hari itu, kehidupan di Jogja, atau kota asal terlupakan sudah. Hidup yang di depan mata adalah dua bulan kedepan diantara dua puluh dua orang ini. Bagaimana kami harus bisa saling beradaptasi, dengan teman sendiri ataupun dengan masyarakat, dengan keadaan, dengan adat, dengan cuaca, dengan kehidupan baru yang jauh berbeda. Bagaimana kami bertahan dengan keadaan, makanan, air bersih, kotoran, sayur, dan kegiatan-kegiatan lain.


yang motoin aku po ya? -_-



**
You know, sehari setelah tiba di desa, saya diare parah banget sampe dehidrasi. Menyelinap pulang dari rapat di Balai Desa dan hampir pingsan dikamar mandi saking lemasnya. Pada akhirnya hari pertama saya: terkapar di kasur, dikamar yang super panas sampe akhirnya Sri dan Sarah dateng ngasih obat. Thanks sis. Kalo nggak ada kalian gue udah kayak cumi kering. 

No comments:

Post a Comment