Tuesday, June 11, 2013

sekali lagi, pada suatu senja

Tedjo Suminto, JUTAP, UGM

Bukan percakapan romantis, tapi berkesan. Sore itu di salah satu sudut yang biasa mereka sebut kampus. Ditemani langit yang agak mendung dan angin sore semilir. Serta dua cangkir capucino instan hangat yang sudah dingin. Layar monitor yang mati karena dipaksa mati. Sendukah? Anehnya ada kicauan burung dari atas pepohonan kampus.

Dua sejoli, eh bukan juga. Sepasang anak manusia yang sedang membicarakan sesuatu. Serius bagi yang perempuan. Dan hanya sebatas angin lewat bagi si lelaki. Percakapan ditengah hiruk-pikuk manusia lain yang sedang ribut di studio. 

"Aku ingin jadi sepertimu. Yang bisa menyukai segala sesuatu disini dan menjalaninya dengan suka cita."

"Aku hanya menjalaninya. Bagaimana ke depannya itu nanti, aku juga belum tahu."

"Aku yakin kamu akan jadi arsitek terkenal."

"Ohya? Bagaimana?"

"Karena perjuanganmu begitu keras untuk pencapaianmu disini."

"Perjuanganmu lebih keras lagi. Untuk bertahan sampai sekarang. Yang penting dijalani saja."

Angin berhembus. Membuat ingatan tentang percakapan yang baru saja terjadi menjadi dramatis. Kicauan burung terdengar makin nyaring. Lalu semburat merah di balik gedung mulai terlihat. Sunset. Sebentar lagi magrib.



terimakasih telah menginspirasi
D

picture captured by me|phone camera

No comments:

Post a Comment