Tuesday, October 29, 2019

How to love your job in easy ways

Dear my lovely blog and hello my silent reader anywhere!


Tetiba the song inside my head screaming to write about job. Bulan demi bulan terlewati hanya dengan berangan-angan ingin menulis cerita, tapi bingung mau nulis apa dan berujung di draft yang isinya sebatas judul dan sebuah kalimat pembuka.

Saya rindu dengan blog ini yang biasa saya tulis tentang sharing kehidupan, cerita ringan, curhat, dan fiksi. Saya rindu membuat template dan header blog baru yang dari dulu berakhir menjadi sebatas konsep.

Hidup dewasa ini bikin saya ups and downs dalam berbagai macam situasi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Apakah quarter life crisis ini belum berakhir?

Banyak hal yang pada akhirnya menyadarkan saya kembali tentang arti kehidupan... sebanyak itu, sampai akhirnya saya putuskan untuk sharing tentang bagaimana mencintai pekerjaan.

I love my job, tapi terkadang, saya mebencinya ketika saya kehilangan arah. Manusiawi. Lalu kembali menemukan jalan, lalu tersesat lagi, kemudian bahagia sebentar, dan jatuh lagi. Dan berulang. Roda selalu berputar bukan?

Pegatina «No te detengas» de barlena | Redbubble
source : pinterest

Ada yang pernah bilang pada saya, "Jangan bekerja pada siapapun, bekerjalah pada profesi kamu." Dan itu cukup membuat saya kembali merenung. Benar juga, ketika diposisi pegawai dan kita bekerja pada atasan, ketika mereka pergi kita akan kehilangan arah. Ketika kita bekerja dan menyelami profesi dan posisi kita, bekerja dengan siapapun kita akan tetap mampu berdiri tegak.

Menyadari itu, pekerjaan, apapun itu pasti membuat kita merasa happy dan terkadang down. Bahkan putus asa. There's no perfect job, selain kita sendiri yang membuatnya.
Untuk saya, saya mencoba bekerja sesuai dengan hal-hal yang saya sukai, mengenal taste diri sendiri, mengenal mau diri sendiri, menikmati dan selalu berdoa.

1. Motivasi
Selalu kembali ke cita-cita dan mimpi, kenapa harus bekerja, tujuan apa yang ingin dicapai. Baik untuk aktualisasi diri, hingga tujuan financial. Untuk saya, selain karena tuntutan hidup, tapi ada target dalam diri saya yang ingin saya capai. Dan saya sadar, keinginan itu tidak bisa dicapai dengan hanya sekedar berangkat kerja-pulang-gajian dan berulang.

2. Challenge
Selalu menantang diri sendiri, setelah belajar A harus belajar B. Karena saya ingin memahami H yang berguna di masa depan saya sendiri. Jadi paling tidak saya harus menguasai A, B, C dan D. Kira-kira tujuan kita di depan sana yang membuat kita selalu merasa butuh tantangan untuk mencapainya.
Kalau kalian belum menemukan, coba kembali di point pertama, motivasi, apa motivasi kalian bekerja disitu?

3. Do what you like
Pasti ada hal-hal yang kita suka, ada hal yang tidak kita suka. Percayalah pada diri sendiri bahwa dengan cara yang kita sukai pekerjaan itu akan terasa ringan. Tidak melulu cara atasan mencapai goals itu sesuai dengan yang kita mau. Kita bisa mencoba cari alternatif lain dari hal yang kita sukai atau enjoy melakukannya untuk mencapai goals tersebut. Meskipun itu sebuah hal kecil menurut kita. Terkadang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Seribu jalan menuju Roma. Ketika harus achieve target penjualan dan harus galak ke team, saya memilih untuk mendengarkan curhatan mereka dibanding harus memarahi mereka. Tapi dari situ, saya bisa mendapat ide-ide baru.

Ketika saya sedang pusing dengan angka-angka dan target billboard yang tak kunjung usai, saya memilih membantu mengedit foto dari pada hanya sekedar menyuruh. It's a pleasure. Pertama, saya senang melakukannya, kedua, saya bisa mentransfer ilmu.

4. Believe that you're cool!
Percayalah bahwa setiap manusia itu punya potensi yang berbeda-beda. Semuanya unik tinggal kita percaya bahwa diri kita spesial. Dan berada di posisi kamu sekarang adalah sebuah anugerah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Note to myself, selalu percaya bahwa kita unik dengan cara kita sendiri dan kita mampu untuk itu.


Cheers!

while listening to 
Whitney Houston - When You Believe

Tuesday, August 20, 2019

this is not a story when a girl meets a boy #4





Seperti logika dan rasa, walau berbeda namun selalu menyeimbangkan. Berlebihan oleh rasa tapi tak diimbangi logika membunuhmu. Terlalu banyak berpikir logis tanpa diimbangi rasa percaya akan menjerumuskanmu.

Ketika keseimbangan telah tercapai, bagai hitam dan putih yang membentuk Yin dan Yang. Menjadi satu bulat sempurna. Dan satu dari puluhan mimpi itu sedang diperjuangkan. Semoga waktunya segera tiba.

Should come back?

Monday, October 22, 2018

Learning by doing, learning without wings

02 - 10 - 2017 

Pemimpin yang baik adalah dia yang mengerti kapasitas setiap peluru sehingga bisa mengoptimalkan senapannya. I guess.

Saya menulis ingin menulis sedikit tentang potensi, job description, profesional dan loyalitas.

Delapan bulan belakangan saya menyelami apa arti kata-kata diatas. Bagi saya, tidak mudah menilai sebuah kata dan mengertinya hanya dengan sebatas membaca. Saya menyelami sendiri kata-kata diatas yang menjadi kegiatan saya sehari-hari.

Job desc erat kaitannya dengan profesionalitas. Dan potensi adalah sebuah anugrah yang diberikan Tuhan kepada makhluknya. Sedangkan loyalitas adalah bagaimana potensi yang kau punya dapat kau berikan secara iklas untuk kepentingan tertentu, tanpa pamrih, menurut saya.

Ada cerita dimana sebuah kelompok mempunyai anggota sedikit, namun diantara mereka tidak ada yang potensinya buruk. Walaupun job desc nya tidak jelas, tapi mereka loyal kepada kelompok tersebut. Sehingga jam kerja yang kadang overtime malah jadi mengurangi nilai profesionalitas mereka. Tapi apakah itu buruk? Toh selama mereka enjoy dan menghasilkan suatu hal yang maksimal, it's fine. Mereka fun-fun aja.

Ada cerita lagi, dimana sebuah kelompok mempunyai anggota yang komplit, namun hanya beberapa dari mereka yang berpotensi bagus. Jobdescnya masih belum jelas karena mereka kelompok baru, mungkin itu berpengaruh pada loyalitas mereka kepada kelompok juga. Sehingga terlihat kurang profesional dalam hal bekerja sama. Namun setiap tugas yang diberikan selalu selesai walaupun masih ada kekurangan sana-sini. Apakah itu buruk? Well, ini tidak bisa dibandingkan dengan kelompok yang pertama tadi.

Banyak hal yang terjadi di dunia. Makin dewasa, penilaian suatu hal akan baik dan buruk semakin blur. Semua tergantung berdasarkan presepsi individu. Saya pribadi ingin ditempatkan di kelompok yang pertama. Namun akan sangat bersyukur ketika ditempatkan di kelompok yang kedua. Kenapa?

Terjebak di rutinitas proyek memang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. But well, tim proyek saya adalah tim kedua tadi. And it's getting worst when we have no manager. Yeaaaah! Horor gak sih. Jadi, sumber daya yang dimiliki kocar-kacir nggak ada yang kontrol. Dan saya sebagai anak bawang yang masih belajar marketing jadi tahu sekali bagaimana marketing proyek ini berjalan. Saya belajar membuat strategi, controling, descicion maker, leadership,dan branding. Selain itu belajar bagaimana menghargai orang lain, orang tua, menahan emosi, sabar, lebih kreatif, menghadapi orang marah, menghadapi celotehan, mendengar keluhan, berani salah dan seterusnya. Itu yang bikin saya bersyukur.

I have no life for about 8 months. I mean, my life before this crazy routine. Rutinitas saya adalah bangun-mandi-ngantor-pulang malem-tidur-repeat. I have no life, sekali lagi. Saya merindukan masa-masa goler-goler atau main cat air. But hey, I got a looooot stuffs to learn. I do love my job, I work in a dream, yang kadang-kadang juga bikin saya stress setengah mati.

Tulisan saja jadi panjang lebar padahal isinya mau curhat.

So, karena saya tidak punya manager, berarti saya harus belajar menerima tantangan, berani disalah-salahin, berani belajar hal baru, dan be strong lah. Yang pasti pelajaran yang saya dapat ini adalah

Jangan terpengaruh yang lingkungan buruk. Be yourself. Karena seorang pemenang adalah dia yangn bisa bisa menahan diri dari pengaruh lingkungan negatif.


Terjebak dirutinitas proyek memang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Literally crazy.Dan kalau saya berhasil menahan diri dari tangisan, artinya saya siap untuk jadi to the next level.


Sunday, May 27, 2018

Be a girl with mind

Hello there! Setelah menyampah serapah di twitter waktu itu, akhirnya saya sempet nulis blog yang isinya bukan umpatan melainkan lebih ke sharing.

It's been more than 1 year I've been living in a mess. Then finally I choose to leave. Dengan segala emosi yang ada, keputusan, dengan berdaulah mau fokus beribadah, akhirnya saya pilih pergi. Bye messy mess!

Kerja di proyek means semua fasilitas untuk hidup akan disediakan oleh kantor. Di proyek saya, diberikan masing-masing 1 rumah untuk pekerja pria dan wanita. Dan saya termasuk pekerja wanita yang tinggal dalam mess. Tapi as you know me, saya bukan tipe orang yang bisa sharing kamar dengan orang karena:
  1. Yes! I am a introvert person, I need my personal space and personal time after meet a loooooottttt of people in the office. Sangat melelahkan dan butuh ngecharge energi semalaman untuk membuat mood baik lagi,
  2. I hate meet the same people in my whole time. Eneg gitu rasanya. Bangun tidur sampe tidur lagi ketemunya mereka. Gila sih ini. Entah gimana kalo nikah nanti. 
  3. I was a Cinderella living with the step mother and two sisters. Memang ga semua bagian mess saya bersihkan, tapi please dong, kamar mandi sama dapur kan pake semua. Masak gue doang yang bersihin?? 
  4. I can't be productive. I miss my hobby, watercolour, and my messy desk aaaaaakkkkk. 
  5. Saya nggak nyaman dengan orang-orang disana. Semua harus bareng-bareng (pergi-pulang bareng, sampe ngambil laundryan harus bareng-bareng juga, mau kemana juga bareng-bareng) 
  6. Mengurangi rasa profesionalitas. Dmn I hate it. 
Segitu curhatan saya yang mewakili twit sampah saya kala itu. Ya kalo di blog sih masih disaring-saring mau nyampah juga. Kalau di twitter masih gak kontrol emosi haha!

source: pinterest


Jadi ya kenapa saya milih judul be a girl with mind karena.... dari kecil saya sudah diajarin sama Papa saya, "Perempuan itu yang paling penting punya iner beauty. Ketika kamu punya itu, kamu bakalan dapet yang terbaik yang ada di dunia." he said like a king to her princess sambil makein tiara (oke ini lebay). Sejak saat itu saya mencari-cari seperti apa bentuk inner beauty itu. Proses pencarian dimulai sejak itu. Dan sampai sekarang, entah sudah ketemu apa belum inner beauty saya. Tapi masih terus nyari.

Apalah gunanya perempuan yang tampil super oke di depan khalayak kalo sikapnya malesan. Apalah gunanya baju di setrika sampe klimis tapi baju yang lain dibiarin amburadul menuhin karpet ruang tamu. Apalah gunanya pake 10 step korean skin care kalau bersihin kamar mandi which is itu tempat yang buat ngebersihin badan aja gak mau. 
Apalah gunanya sok ngomong oke sana-sini tapi tiap pulang ke rumah langsung telponan ama pacar tanpa ganti baju dulu. Apalah gunanya sok-sok masakin bekal buat pacar kalau buang sampah makanan dari dapur ke tong sampah depan aja nggak mau. Situ princess atau step sister hayooo?

dokumentasi pribadi sebelum buka bersama

For me, perempuan berkelas itu yang mandiri, tangguh, smart, banyak wawasan, punya pendirian, have a good personal behaviour, nice grooming, bisa menempatkan diri dimanapun, tahu posisiya, like a skyscraper, like a skyscraper (malah nyanyi).

Cukup sekian curhatan kali ini. Bagi kalian para wanita yang mungkin tersinggung dengan pos saya sih nggak masalah. Karena saya dibesarkan oleh didikan serba mandiri, jadi ya beginilah pola pikir saya. 


Xoxo, 
Kiky



Wednesday, April 18, 2018

JOGJA





Jogja,
terkomposisi mimpi dan kenangan
tertulis nyanyian dan harapan
tercium cita dan cinta
terhanyut aku akan nostalgia

15 April 2018