Showing posts with label mars-phobos-deimos. Show all posts
Showing posts with label mars-phobos-deimos. Show all posts

Tuesday, October 21, 2014

mars-phobos-deimos #11 (...........)

aku merindukan kegigihan usahamu, hidupku kini seakan datar, tak ada yang bisa kupertahankan dari apapun, tak ada yang harus kutakuti untuk kulepaskan ~deimos

Hari-hariku bersamanya hambar, tidak manis, tidak asam. Hambar, seakan melayang di luar angkasa. Seperti jalan tol yang mulus, tanpa lubang. Mem-bo-san-kan. Aku tidak menikmati kemenanganku karena pihak lawan menyerah tanpa aku mengerahkan banyak tenanga. Bisa jadi pihak lawan mengalah, bukan menyerah. Dan aku hanyalah seorang pengecut yang menerima kemenangan yang belum sepenuhnya kudapat. 

Aku tidak yakin padanya, pada hatinya yang akhirnya diberikan padaku. Aku tidak yakin seberapa besar bagian yang ia berikan padaku, dan seberapa bagian lagi yang masih ia simpan yang kemungkinan berisi orang lain (baca: lawanku).

Aku yakin ia bukan tipe yang suka berkhianat. Tidak, dia tidak seperti itu. Walaupun hal yang lebih menyakitkan selalu terjadi tepat di depan mataku. Pandangan kosong matanya ketika menatap mataku yang berbinar-binar, adalah lebih menyakitkan dibanding apapun didunia. Sama seperti hubungan kami, hambar. Hal itu membuatku makin yakin, bahwa tak sampai seperempat hatinya yang ia berikan padaku, dan seperempat itu mungkin bukan perasaan yang ku harapkan, namun kasihan. 

Aku merasa tersiksa, membohongi sejagad raya akan kebahagiaanku. Demi harga diri, demi kemenangan yang palsu. 

Halo semesta, aku menulis untukmu, tidak untuk dipublikasikan lebih luas.

-deimos.







tulisan ini untuk seorang yang katanya lagi kangen sama trio planet merah hahaha :P


nama hanya fiksi, diibaratkan sebuah planet yg mempunyai dua satelit mengelilinginya, tidak ada hubungannya dengan cerita asli yunani

Tuesday, December 31, 2013

mars-phobos-deimos #10 cukup




Masih kau tanya lagi bagaimana aku? Blah! Sudahlah, pergilah saja. Kembalilah ke dunia kalian lagi. Sepertinya aku sudah tidak mau tahu lagi. Bisa kita cukupkan sekian? Jangan gubris aku lagi. Biar aku mengaku aku yang mengakhiri. Satu lagi. Aku tidak akan mencari tahu akhir kisah ini. Aku pikir cukup.Selanjutnya urusan kalian sendiri.  -Phobos

Bagai ditabrak asteroid, sakit digantungkan. Nasib Phobos, yang akhirnya menyerah untuk Sang Dewa. Begitupun dia tetap tidak bisa lari dari orbitnya. Semesta tetap bersikukuh tak mengubah apapun. Semua tetap sama seperti sebelumnya. Hanya menunggu lima puluh juta tahun untuk benar-benar mengakhiri. Bersabarlah.

Akhirnya satu senyuman itupun merekah, dari seorang bernama Deimos diorbit seberang sana. Selamat, paling tidak sudah tidak ada saingan lagi untuk mendapat Sang Dewa. Cerita jadi terlihat sangat jelas,kan.


Mars-Phobos-Deimos

-end

Saturday, December 28, 2013

mars-phobos-deimos #9 apakabar?

Entah mau dibawa kemana kisah ini. Tapi setiap cerita akan ada akhirnya, pasti. - #7 phobos

Apakabar?
Pertanyaan tadi ditujukan padamu, siapapun kamu. Baiklah, padamu lebih tepatnya. Sepertinya aku tahu kemana arah cerita ini akan berakhir. Aku merasa bodoh terjebak disini. Atau lebih tepatnya dijebak, atau mungkin menjebakkan diri. Aku tidak pernah lagi menerima surat balasan darimu dan tidak lagi mengharapkannya. Sepertinya semuanya sudah terjawab. Dan aku tidak mau pusing-pusing untuk menunggu, memikirkanmu, atau mengirim surat lagi. Tapi apakah harus sekarang aku mengucapkan selamat tinggal? Tapi kita selalu pada orbit yang sama. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? haruskah ku percepat limapuluh juta tahunku yang tersisa untuk meledak? -phobos


Dear, Phobos

Apakabar? Pasti kau kaget kenapa aku mengirimu surat. Maafkan aku.
Aku tau kau sedang putus asa tentangnya. Sebenarnya dia juga hampir sama frustasinya sepertimu, makanya dia... tidak pernah membalas suratmu. Aku kasihan padanya. Setiap hari banyak sekali waktunya tenggelam dalam lamunan tentangmu.
Tapi apa yang terjadi dengan kalian berdua bukan urusanku. 
Phobos, semangat ya!

-Deimos


Bukannya semangat, Phobos hampir gila menerima surat pertama yang pernah dikirimkan oleh Deimos. 'Do I know you, girl? Kau membuatku lebih gila!'

hei semesta! tidakkah kau bertindak? Mengubah nasibku menjadi nebula atau asteroid saja? Atau menggantikan posisi Pluto denganku? Apa aku harus meledak sekarang saja?


Dari kejauhan tampak Bumi sedang tersenyum menyaksikan semburat merah yang terpantul dari samudera-samuderanya. 'Ah Mars, kau membuat perangmu sendiri. Sepertinya ceritamu belum berakhir."



Mars-Phobos-Deimos

Saturday, November 2, 2013

mars-phobos-deimos #8 -saja

Akhirnya milik kita
Sekarang namanya bukan rahasia semesta lagi,
ini menjadi rahasia kita,
berdua saja.

Hanya aku dan kamu yang tahu,
ketika hanya mata yang berbicara.
Ketika satu pandangan memaknai banyak bahasa,
dan sekedip mata berjuta makna.

Dunia ini mungkin sebentar lagi milik kita,
sekali lagi, berdua saja,
yang lain ditelan nebula.

Sekali lagi pula hanya bersamamu,
bersamamu kusandarkan bahu.
Bersamamu pula kubunuh waktu.
Waktu bersama mereka yang pernah kuburu.
Waktu bersama mereka pula yang pernah kutunggu.

Jika kedua disambungkan maka rahasia
dan dunia adalah milik kita.
Atau kalau kau mau tahu lagi
apa maksudku adalah dunia rahasia.
Dunia rahasia diantara aku dan kamu.
Lagi-lagi hanya berdua, saja.
lalu kita tak perlu bicara.




Suara siapa yang berbicara?
Mars-Phobos-Deimos

Wednesday, October 9, 2013

mars-phobos-deimos #7 Phobos

"...selanjutnya aku memilih pergi, meskipun aku yakin kau tak akan pernah peduli..."

....Bukan sepi namun benci
Bukan sendu namun rindu
Bukan jiwa tapi nestapa
Bak kulit kacang
sia-sia


Sadarkah? Iya banyak kata negatif yang kugunakan dalam puisiku tadi. Menurutmu kenapa? Waktuku sia-sia, terbuang untuk harapan yang terlalu tinggi. Salahku atau salahmu? Salahkah yang mengharapkan atau salahkan pemberi harapan? Rrrr sebenarnya, bukan salah siapapun, memang begitu kan hukum alamnya? Atau aku yang terlalu sepi? Sudikah jika semesta mengirimkan teman lagi? Apa aku harus (selalu) mengharapkan teman sepertimu? Bahkan itupun kalau kau menganggapku teman. Eh! Atau begitu saja ya? Bisakah, hei semesta? -Phobos galau

Semesta tersenyum. Tanpa arti. Dingin. Tanpa jawaban.
Entah mau dibawa kemana kisah ini. Tapi setiap cerita akan ada akhirnya, pasti.



si dewa perang-si penakut yang bisa terbang-tukang teror!

Saturday, September 14, 2013

mars-phobos-deimos #6 pecundang

Bukannya aku tidak peduli, tapi inilah tujuanku! Sesuai namaku, dewa perang

deimos
Aku bukannya meminta yang aneh-aneh. Bukan juga mengharapkan sesuatu yang berlebihan. Aku hanya ingin dianggap ada. Olehmu. Aku tidak minta diajak makan malam mewah di tempat bertaburan bintang dan minum wine kesukaanmu. Aku hanya ingin kau mendengar ceritaku itupun terserah mau benar-benar kau dengarkan atau hanya kau anggap angin lalu. Hanya itu saja, sih.

mars
(hanya diam seperti pecundang yang super kampret melihat perempuan di depannya yang matanya berkaca-kaca hampir menangis dengan lubang hidung yang mulai kembang kempis akibat menahan jantungnya yang berdegup mengalahkan getaran gunung yang hampir meletus)


Semesta memang sengaja membuat sosok cuek dan kampret seperti Mars. Lalu membiarkan sesuka hatinya akan apa yang dilakukan Mars. Seperti namanya, Dewa Perang, mungkin inilah sebenarnya apa arti namanya, perang hati diantara wanita disekitarnya. Cukup hanya mengibaskan rambutnya dan sekitarnya akan merasakan dahsyatnya sang dewa. Tidak perlu gombal untuk membuat mereka ribut. Dahsyat! 
Dimana-mana perang akan ada pemenangnya, namun Semesta belum memperlihatkan siapa yang memenangkan hati sang dewa, ataukah Semesta punya kehendak lain?

Diantara nebula-nebula terlihat Bumi sedang makan es krim, wajahnya murung, sepertinya ada banyak masalah disana. Sementara Phobos, oh apa kabar dia? Apakah sudah menyerah?

Mars, aku tidak habis pikir kau sebegitu pecundanngya menghadapi mereka! -terdengar suara, entah darimana asalnya. Tapi anginnya datang dari tempat Bumi berada. Blah, siapa lagi itu!




si dewa perang-si penakut yang bisa terbang-tukang teror!

Tuesday, August 20, 2013

mars-phobos-deimos #5 tentang hati

"Katamu hati tidak bisa disalahkan, tapi kenapa menurutku perasaan ini tidak pada tempatnya?"


Bimasakti, Orbit Mars, 2000

Dear Semesta,
Akhirnya saya putuskan untuk curhat padamu! Saya sebal dengan semua kenyataan yang saya alami, apalagi kalau bukan masalah hati. Katamu tidak bisa disalahkan! Tapi apa? Menurutku ini salah tempat, salah waktu, salah pokoknya salah! Dari dulu dia sudah kuanggap sahabat. Apapun katamu. Dan terserah kau mau bilang saya keras kepala atau bagaimana. 
Semesta, bisakah kau lenyapkan?
-deimos


Deimos depresi. Sudah berhari-hari ia termenung dalam lingkaran setan antaranya, Mars dan Phobos. Akhirnyapun perasaannya disadari. Sekarang terpaksa mengorbit sambil memendam. Walau bagaimana Deimos tetaplah Deimos bersama Phobos adalah satelit Mars. Dua manusia yang terjebak bersama sang dewa perang. 

Semesta masih membiarkan lingkaran setan berputar seperti gangsing. Mungkin malah menambah satu tokoh lagi.

M: "Hei , Bumi. Kau ada acara hari ini, mau makan es krim?"
B: "Tumben? Apakabar Phobos dan Deimos?"
M: "Masih ditempatnya masing-masing. Sudahlah, ayo pergi."

Tidak ada yang tahu antara kedua orang yang terjebak itu. Tentang hati Bumi siapa yang tahu selain Semesta?
Sudahlah.


Mars-Phobos-Deimos
si dewa perang-si penakut yang bisa terbang-tukang teror! 

Tuesday, June 11, 2013

prologue


Ketika hubungan antara manusia ternyata lebih rumit dari rumus perhitungan beban pada pembalokan. Jawaban tidak bisa ditemukan apalagi dibulatkan. Hati yang tidak bisa menebak meskipun tutur berkata. Tidak ada yang pasti. Dan ketika tidak ada teori yang pasti untuk memecahkan teka-teki karena lebih rumit dari teori bigbang.
Bukan berarti tidak bisa diselesaikan atau tidak ada akhirnya. Kami tidak tahu, dia tidak tahu, tidak ada yang tahu. Satu yang tahu. Kunci itu dibawa semesta. Percayalah.



Mars-Phobos-Deimos
si dewa perang-si penakut yang bisa terbang-tukang teror! 

Saturday, April 6, 2013

mars-phobos-deimos #4 galau


"Menunggu.... Tapi bintang jatuh tak membawa apapun. Hanya debu hidrogen, tanpa meninggalkan apapun selain kilatan cahaya yang bukan apa-apa. Hei Semesta, haruskah saya meminta suatu permintaan padanya? Menunggu terlalu membosankan.... Mending kalau berarti, kalau tidak, sia-sia. Baiknya, saya menulis saja, untuk bintang jatuh mungkin, siapa tahu dia membawa surat balasan yang lain." -phobos


wussssssssssh~ dhuarrrrrrr! 
Satu ledakan lagi, bintang yang bodoh! Sudah tau disitu ada atmosfer, masih saja ditabrak. Matilah kau!
Ehm, anyway apa yang bawa dia kesana, ya? Salah alamatkah?

Wednesday, April 3, 2013

mars-phobos-deimos #3 surat phobos





Bimasakti, Orbit Mars, 2000 

Dear Mars, 

Apa kabar? Sepertinya sudah sangat lama saya tidak bercengkerama denganmu. Saya harap kau baik saja karena saya juga baik saja. Terkadang  mengucap doa pada semesta membuat saya lebih tenang. Berharap kau baik saja, entah semesta mendengar atau tidak. Semogalah dia mendengar dan menyampaikannya padamu.

 Mars, saat ini saya hanya ingin berbagi.  Mungkin basi pakai acara surat-menyurat begini tapi apa lagi yang bisa saya lakukan dengan jarak 6000 kilometeran. Bisa saja saya terbang, tapi saya pikir belum waktunya saya terjatuh dari kepakan sayap sendiri. Oke baiklah langsung pada poinnya saja.

Akhir-akhir ini saya berpikir kalau saya terlalu kekanakan. Ego saya tinggi. Sepertinya surat ini sepertinya malah berisi sampah. Saya suntuk dan lelah. Entah sampai kapan saya harus menunggu, menunggumu atau keputusan semesta? Jikalau memang harus menunggu semesta, apakah saya harus menunggunya lima puluh juta tahun lagi seperti kata Bumi? Hmmm beberapa waktu lalu saya sempat berbicara sedikit dengannya, menurutku dia tahu banyak tentang kamu, tentangku, tentang kita. Entah seberapa dekat kalian saya tidak tahu. Tapi kata-kata dia itu, apa maksudnya? Apakah kau akan menggantungku selama itu, Mars? Saya merasa konyol bertanya seperti ini. Seharusnya saya percaya padamu. Percaya kau punya keyakinan tentang ini. Tapi ada sesuatu lain yang sepertinya tidak saya ketahui-kah? Sepertinya begitu bukan? Entahlah.

Oke saya galau. Sudahlah.
Kau, baik-baik saja, ya!

Phobos


Mars menghela nafas begitu juga Semesta. Menerbangkan selembar kertas kuning bertuliskan tinta magenta di antara nebula-nebula. Dan hembusan nafas semestapun membawanya ke langit Bumi hingga menghasilkan aurora. Bumi terlonjak kaget, pura-pura cuek tapi membiarkan aurora itu dinikmati oleh pinguin, singa laut dan beruang kutub atau mungkin orang Eskimo. 


Mars-Phobos-Deimos
si dewa perang-si penakut yang bisa terbang-tukang teror! 

Thursday, February 28, 2013

mars-phobos-deimos #2 gaia



M: "Ini pembelaan saya, Bumi. Bukan salah saya maupun mereka tentang apa yang terjadi pada mereka berdua, Phobos dan Deimos. Saya hanya menjalani apa yang sudah di takdirkan oleh big bang yang membuat kami bertemu. Big bang telah mengatur semuanya, mengatur saya, kamu, venus, merkurius, pluto, bahkan letak nebula sekalipun. Big bang juga yang telah membuat semesta ini jadi penuh tabrakan bintang berekor dan mentakdirkan kau dengan Selene. Karena big bang kita berada disini. Jadi apa yang kau katakan padaku itulah takdirku, Ge. Kau juga punya takdirmu sendiri. Dan entah kenapa kau tahu banyak tentang takdirku."

B: "Yayaya, saya ingat big bang dan itu yang membuat saya terjebak disini. Terkadang mengingat big bang itu menyebalkan. Oh kenapa saya malah curhat."

M: "Hahaha jadi selama ini kau tidak suka dengan takdirmu? Kasihan sekali. Kenapa kau malah mencaci maki saya dan takdir saya? Bukankah kau punya masalah sendiri yang harus kau selesaikan? Ohya, bagaimana kabar emu? Burung itu lucu sekali, sayang dia punah. Kau tidak berhasil melindunginya-kah? Dan bagaimana kabar hiu-hiumu? Saya dengar mereka hampir punah karena dikonsumsi? Kau akan membiarkannya?"

Bumi diam, tercengang. Semua yang dikatakan Mars benar dan lebih penting untuk direnungkan daripada apa yang berotasi dipikirannya sekarang.

Semesta tersennyum kecil.

Gaia
si ibu dari segala keindahan dan kehuru-haraan

Mars-Phobos-Deimos
si dewa perang-si penakut yang bisa terbang-tukang teror! 


Thursday, January 31, 2013

mars-phobos-deimos



B: “Jadi memang benar ya kalau kamu adalah Dewa Perang!”

M: “Hei, tenang, apa maksudmu?”

B: “Kau adalah Mars. Yang orang bilang mirip saya tapi kau lebih merah, apa itu sebabnya ada dua satelit yang tertarik pada gravitasimu, sedangkan hanya ada bulan di dekatku?”

M: “Sirik saja kau. Kau iri?”

B: “Phobos mu, saya tahu dia sebenarnya sangat takut berada diantara kau dan Deimos. Mau pergi tetapi dia tidak berani meninggalkanmu. Dia terlalu setia. Dan kau tidak bisa tidak bertemu atau sekedar mengucapkan hai padanya dalam waktu lebih dari sebelas jam. Bagaimana dia bisa terbang meninggalkanmu. Sedangkan Deimos, dia seperti peneror yang mabuk akan cintamu disana. Jauh memang, tapi dia tahu segalanya, bahasa kerennya sebut saja stalker. Dan kau juga tidak bisa melepaskannya begitu saja dari gravitasimu karena dia dengan sabar menantimu selama...kau tahu, dia akan setia menantimu selama limapuluh juta tahun untuk benar-benar hanya bersamamu. Dia tahu itu.”

M: “Saya tidak paham, Bumi. Apa maksudmu?”

B: “Hahahaha jangan sok polos atau kau memang benar-benar akan mengajak perang. Anyway, suatu saat Phobos mu akan jatuh padamu dan dia akan hancur.”

M: "Apa maksudmu Phobos akan hancur? Menurutmu kau ini siapa?!”

B: “Saya Bumi, dan di planet saya ada yang namanya sains. Semesta akan bertindak suatu saat nanti, dan Phobos, si penakut yang bisa terbang itu akan hancur, dia akan jatuh padamu, maksudku benar-benar jatuh karena kehilangan gravitasimu dan kemudian akan hancur. Dia akan meninggalkan bekas luka yang dalam pada permukaanmu. Mungkin akan membekas selama matahari masih bersinar dan kita masih berputar pada orbit kita. Saat itu kau hanya akan bersama teroris busuk itu. Si Deimos. Bersenang-senanglah, Mars, pakailah lima puluh juta tahun itu untuk membuat Phobos tersenyum, buat saja dia bahagia. Mungkin pada dimensi waktu yang lain kau pernah menyakitinya. Bersiaplah.”

M: “.....”

Sementara itu terlihat mata Deimos terbelalak mendengar ke-sok-tahuan Bumi karena selama ini mungkin hanya dia yang tahu akan rencana semesta. Sedangkan Mars memutar bola matanya, berfikir sejenak, kemudian menghela nafas panjang, lalu diam. Sunyi. Di dekatnya Phobos tertidur, tapi dalam tidurnya dia bermimpi Mars tersenyum padanya dan menggenggam tangannya walaupun Phobos tahu pikirannya hanyalah Deimos. Bumi kembali sibuk dengan urusannya.

Semesta masih bersabar menunggu untuk mengungkap semua, lima puluh juta tahun lagi. 


Mars-Phobos-Deimos
si dewa perang-si penakut yang bisa terbang-tukang teror!